4 (Empat) Pilar Pembelajaran

Istilah pilar dalam pendidikan bisa menjadi bagian yang tak kalah penting, eksistensinya seperti halnya tujuan, sasaran, atau instrumen pendidikan.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), kata "pilar" bermakna tiang penyangga (terbuat dari besi atau beton). Maksud dari Pilar-Pilar Pembelajaran adalah bahwa sendi pendidikan ditopang oleh semangat belajar yang kuat, melalui pola belajar yang bervisi ke depan dengan melihat perubahan-perubahan kehidupan.

Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi era globalisasi di masa kini dan mendatang. Kegagalan dalam pendidikan dapat menyebabkan tidak berkembangnya potensi siswa untuk menjadi manusia produktif dan berkualitas.

 Kondisi zaman cepat berubah, terutama di bidang teknologi dan informasi, sehingga visi paradigma pendidikan harus relevan yang kemudian diturunkan ke dalam metode pembelajaran, yakni mengubah paradigma Teaching (mengajar) menjadi learning (belajar).
 Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi proses bagaimana“belajar bersama antar guru dan anak didik”. Guru dalam konteks ini juga termasuk dalam proses belajar. Sehingga lingkungan sekolah menjadi learning society (masyarakat belajar). Dalam paradigma ini, peserta didik tidak lagi disebut pupil (siswa) tapi learner (yang belajar).

Untuk meghadapi dan menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan 4 pilar pembelajaran, Yaitu Belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be)

1. Belajar Mengetahui (learning to know)
 Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan, dan pemanfaatan 
 informasi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam
 dan memanfaatkan pengetahuan. Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat.
 terutama teknologi dibidang elektronika, memungkinkan sejumlah informasi dan 
 pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh, dan disebarkan secara cepat ke seluruh dunia.

 Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan, antara lain memperluas
 wawasan, meningkatkan kemampuan, memecahkan masalah, dan belajar lebih lanjut.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within,
 menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu:
    a. Pengetahuan sebagai alat (mean)
        Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk mencapai berbagai tujuan.
        Seperti : memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, 
        pengembangan keterampilan bekerja, dan berkomunikasi.

    b. Pengetahuan sebagai hasil (end)
        Sebagai hasil, pengetahuan dasar bagi kepuasan memahami, mengetahui dan 
        menemukan.

2. Belajar Berkarya/Menerapkan (learning to do)
Learning to do mengandung makna bahwa belajar bukanlah sekedar mendengar dan      melihat untuk mengakumulasi pengetahuan, akan tetapi belajar dengan dan untuk melakukan sesuatu aktivitas dengan tujuan akhir untuk menguasai kompetensi yang    diperlukan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Belajar berkarya adalah belajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Tuntutan pekerjaan di dunia industri dan perusahaan terus meningkat, sehingga
ketrampilan dan kompetisi kerja juga semakin tinggi. Dalam masyarakat industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan keterampilan    motorik yang kaku melainkan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan seperti “controlling, monitoring, designing, organizing”. Peserta didik diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi konkrit yang tidak hanya terbatas pada penguasaan ketrampilan yang mekanitis melainkan juga terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi suatu konflik. Melalui pilar kedua ini, dimungkinkan mampu mencetak generasi muda yang intelligent dalam bekerja dan  mempunyai kemampuan untuk berinovasi.

 3. Belajar Hidup Bersama (learning to live together)

Belajar Hidup Bersama (Learning to live together) adalah belajar untuk bekerjasama melalui proses bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara kelompok tidak mungkin dapat hidup sendiri atau mengasingkan diri dari masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya perbedaan pandangan antar individu. 


Agar mampu berinteraksi, berkomunikasi, bekerjasama, dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama.

4. Belajar Untuk Menjadi (learning to be)

Belajar untuk Menjadi (Learning to be) mengandung arti bahwa belajar adalah proses untuk membentuk manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus berusaha memfasilitasi peserta didik agar bealajar mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat.

Tatanan kehidupan yang berkembang  cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia yang unggul dan berkualitas.



 






   

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Perpindahan Panas (Kalor) Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran