Pendekatan Ilmiah (Scientific) dalam Pembelajaran pada Kurikulum 2013

Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 dilaksanakan dengan menggunakan Pendekatan Ilmiah (scientific approach). Pendekatan Ilmiah menurut Muhammmad Faiq (2013), pada hakikatnya merupakan titian emas perkembangan dan pengembangan sikap (ranah afektif), keterampilan (ranah psikomotor), dan pengetahuan (ranah kognitif) siswa. 
Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, menalar,mencoba, dan membentuk jejaring.

1. Mengamati (Observing)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning).   Konsep pembelajaran bermakna dapat dirancang sebelumnya oleh guru, sebagaimana dijelaskan oleh E. Mulyasa (2013:103) bahwa dalam pembelajaran bermakna, peserta didik perlu dilibatkan.
Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Metode ini memiliki keunggulan, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Namun, metode ini juga mempunyai kelemahan, yaitu memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak tarkendalikan akan mengaburkan makna dan tujuan pembelajaran.

      Langkah-langkah yang ditempuh pada kegiatan mengamati dalam pembelajaran :
  • Menentukan objek yang akan diteliti
  • Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
  • Menentukan data-data yang akan diobservasi.
  • Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi.
  • Menentukan bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data
  • Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi. Misalnya menggunakan buku catatan, kamera, video perekam, dan alat tulis lainnya. 
Kegiatan observasi akan berjalan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan alat-alat pencatatan untuk observasi.

2. Menanya (Questioning)

    Seorang guru harus memiliki keterampilan bertanya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing dan memandu  peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didik, ketika itu pula dia mendorong peserta didik menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Tanya jawab dalam pembelajaran dapat membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. Menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.

Kriteria pertanyaan yang baik adalah singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus,  bersifat probing dan divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan kemampuan kognitif, dan merangsang proses interaksi.

Guru harus memahami kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi.

3. Menalar (Associating)

    Menalar adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah kegiatan menalar dalam konteks pembelajaran dalam kurikulum 2013 dengan pendekatan scientific banyak merujuk pada istilah asosiasi atau pembelajaran asosiatif.

Istilah asosiasi dalam pembelajaran, merujuk pada pengelompokan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukkannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referansi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak, berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu disebut menalar atau asosiasi.

Terdapat dua cara menalar yaitu

a. Menalar Induktif
  Menalar Induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat           nyata  secara individual atau spesifik menjadi simpulan bersifat umum.

b. Menalar Deduktif
    Menalar Deduktif adalah cara menalar dengan menarik kesimpulan dari pernyataan-
    pernyataan yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.

 
4. Mencoba (Experimenting)
      Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai.
Agar pelaksanaan percobaan berjalan lancar, maka guru harus mempersiapkan hal-hal berikut ini:
  1. Merumuskan tujuan percobaan(eksperimen) yang akan dilaksanakan peserta didik.
  2. Bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang akan dipergunakan.
  3. Memperhitungkan tempat dan waktu.
  4. Menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan peserta didik
  5. Membicarakan masalah yang akan dieksperimenkan.
  6. Membagi kertas kerja kepada peserta didik.
  7. Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru.
  8. Guru mengumpulkan hasil kerja peserta didik dan mengevaluasinya.

5. Membentuk Jejaring (Networking)

      Jejaring pembelajaran atau pembelajaran kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sedangkan peserta didik harus lebih aktif. Dalam membentuk jejaring, dianjurkan untuk membentuk kelompok yang heterogen.



















Comments

Popular posts from this blog

Contoh Perpindahan Panas (Kalor) Dalam Kehidupan Sehari-hari