Sering Memarahi Anak, Ini Dampak Buruknya



Setiap orang tua di dunia pasti pernah memarahi anaknya. Penyebab dari kemarahan antara lain bisa dikarenakan sikap anak yang agresif, rewel, keras kepala dan suka membantah. Kemarahan yang ditunjukkan orang tua, sebenarnya bertujuan agar anak menyadari akan kesalahannya dan mau memperbaiki perilakunya. Namun, keseringan memarahi anak justru dapat memberi dampak negatif bagi perkembangan otak anak. 

"Di dalam setiap kepala seorang anak, terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian, mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan, mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya satu pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga".


Dampak buruk jika sering memarahi anak, yaitu 


1. Kerusakan/kematian sel-sel otak anak

Sejumlah  penelitian menunjukkan bagaimana pengaruh penting sikap atau perilaku orang tua terhadap anak-anak mereka pada masa perkembangan dan pertumbuhannya. Seorang Neuroscientist di Chicago Medical School, Lise Eliot, Phd, dalam bukunya "Whats going on in There? How The Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life. Menceritakan sebuah fakta yang begitu mencengangkan. Ia melakukan penelitian perkembangan otak terhadap bayinya sendiri. 
Lise memasang seperangkat alat khusus di kepala bayinya. Alat itu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer agar dia bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan sel otak anaknya melalui layar monitor. Saat bayinya bangun, dia memberinya ASI. Ketika bayinya minum ASI, Lise melihat gambar-gambar sel otak anaknya di layar monitor sedang membentuk rangkaian yang indah. 
Ketika sedang asyik menyusui, tiba-tiba bayi Lise menendang kabel komputer. Si ibu sontak kaget dan berteriak, "No!" Ternyata teriakan si ibu membuat bayinya kaget, saat itu juga Lise melihat gambar sel otak anaknya di layar monitor terus menggelembung seperti balon, semakin membesar dan akhirnya pecah. Selanjutnya terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel otak. Apa yang dilakukan oleh Lise Eliot telah membuktikan kepada kita semua, betapa emosi yang tidak terkontrol akan berdampak buruk pada perkembangan otak anak-anak kita.

Meskipun anak dilahirkan memiliki milyaran sel otak, jika setiap saat anak melewati hari-harinya dengan omelan, teriakan, dan amarah dari orang tuanya, sungguh tak terbayangkan berapa banyak  sel otak yang akan mati akibat perlakuan buruk yang diterimanya.

2. Penurunan kepercayaan diri

Anak-anak yang sering dimarahi cendrung akan berpikir, bahwa penyebab dia dimarahi adalah karena melakukan kesalahan. Semakin sering anak dimarahi, maka semakin kuat opini pada diri anak bahwa semua tindakannya adalah salah, sehingga takut melakukan hal-hal yang baru, merasa minder, dan pada akhirnya anak akan kehilangan rasa percaya diri, dan Anak akan menjadi pasif karena cendrung memilih diam dan tidak berbuat daripada dimarahi.


3. Depresi

Anak yang sering dimarahi bisa mengalami tekanan mental atau depresi. Anak akan jadi lekas marah atau frustasi, egois, agresif, merasa sedih, merasa tidak berharga atau bersalah, dan lambat dalam berpikir, berbicara, atau bergerak. Anak juga cendrung melakukan tindakan kekerasan, baik fisik maupun verbal. Hal ini bisa berlanjut hingga mereka dewasa.


4. Trauma

Kemarahan tidak mengajarkan apa-apa terhadap perkembangan si kecil, justru membuat renggang ikatan batin antara orang tua dan anak, anak akan merasa tidak nyaman dan takut karena perilaku orang tuanya. Anak yang sering kena marah bisa mengalami trauma, jika kekerasan verbal yang mereka alami disertai dengan pemberian julukan (label) yang negatif, kasar dan tidak pantas. Seperti "anak nakal", "anak bodoh", "anak pemalas", atau "anak tak berguna". Julukan yang diberikan tersebut akan membuat anak beranggapan bahwa dia memang seperti apa yang dikatakan itu. 

5. Introvert
Anak akan memiliki pribadi yang tertutup. Kepribadian introvert merupakan kondisi psikologis dimana anak lebih pendiam dan cendrung menutup dan menarik diri dari lingkungannya. Anak enggan mengungkapkan isi hatinya atau permasalahan yang dihadapinya, takut mengutarakannya karena takut dipersalahkan.

6. Apatis

Akibat terlalu sering dibentak dan dimarahi, anak akan menjadi bersifat apatis, sering  tidak peduli terhadap suatu hal.  

Menahan diri untuk tidak sering marah pada anak tidaklah mudah. Namun, ini lah tantangan bagi para orang tua untuk lebih sabar dan bijak dalam menyikapi dan memperbaiki perilaku anak-anak kita.
















Comments

Popular posts from this blog

Contoh Perpindahan Panas (Kalor) Dalam Kehidupan Sehari-hari